Republik Tukul Arwana
“Kita kembali ke LAPTOOOOPP…. !!! “
Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin tahu kalimat ini. Seorang Tukul Arwana begitu cantik mempopulerkannya lewat acara “Empat Mata” di Trans 7 setiap hari pukul 21.30 ( hmm… seems like a promotion ? ).
Beberapa kali menonton acaranya mas Tukul ini, satu pertanyaan yang terlintas di benakku : “Kok orang sejelek ini bisa begitu populer ? Sampai-sampai jam tayangnya dimajukan sampai ke ‘area melek’ sebagian besar masyarakat Indonesia ?” Sorry rada menghina. Tapi tampang mas Tukul dari sudut pandang manapun menurutku tidak ada ganteng-gantengnya. Tapi ganteng itu relatif, buktinya masih ada yang mau sama mas Tukul ( istrinya -red ).
Artikel ini tidak mengulas mas Tukul secara lebih spesifik, apalagi membedahnya dan meneliti kesamaannya dengan … ikan arwana misalnya. Artikel ini akan mengulas sebuah fenomena, di mana saat ini gaya yang ditampilkan Tukul menghasilkan fenomena yang disukai orang banyak.
Pertama fenomena tentang Tukul itu sendiri. Tukul, yang hampir dapat dipastikan sudah sedikit orang kota yang mau memberi nama anaknya ‘Tukul’. Terlalu ndeso. Terlalu katro. Mungkin di desa masih ada nama ‘Tukul’. Yang terang, Tukul yang ndeso dan katro yang nafsu menyobek-nyobek mulut orang ini, sudah menjadi orang kota yang tenar dan digemari banyak orang, justru karena ke-ndeso dan ke-katro-annya itu. “Ndesooo…!! Katrooo…!!”, kemudian “Puas ? Puas ???” dan banyak lagi idiom-idiom yang menjadi trademark mas Tukul ini, telah menjadi idiom-idiom masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahkan gaya bertepuk tangan dan memonyongkan mulutnya yang mirip monyet, telah menjadi isyarat-isyarat yang digunakan dalam acara bercanda sebagian besar masyarakat Indonesia ini.
Kedua, fenomena tentang Laptop. “Kembali ke LAPTOOOPPP !!!” sangat terkenal di seantero nusantara. Pada prakteknya, memang mas Tukul ini menggunakan laptop sebagai referensi pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan kepada para bintang tamu. Mungkin bagi yang jeli, dalam talk show milik Tukul ini, penggunaan laptop menjadi yang pertama dan malah menjadi trademark bagi acara talkshow ini sendiri. So, image di masyarakat adalah : Ada tukul, ada laptop. Begitu melihat laptop, yang terbayang Tukul ( benarkah ? ) Kembali ke lap….. toooppp…..
Entah berhubungan entah tidak, pasangan tukul dan laptop ini menjadi trend di masyarakat. Bahkan anggota dewan ‘yang terhormat’ DPR RI sangat ingin meniru mas Tukul dengan mengusulkan pembelian laptop yang harganya sangat mahal jika dibandingkan dengan kebutuhan anggota DPR itu sendiri : 21 juta hanya untuk menggunakan Microsoft Word dan Excel !!! ( itupun kalau mereka bisa menggunakannya =)) ). Sempat terekam dalam sebuah situs berita di Tanah Air, ungkapan canda seorang anggota DPR : “Tukul aja punya laptop, kok kita (anggota DPR) gak punya ???” Itulah : Tukul semakin diidentikkan dengan laptop.
Fenomena ketiga : Keluguan Tukul dan gaya entertain yang dibawakannya. Polos. Kebiasaannya menghina diri sendiri menjadi sebuah kelucuan tersendiri yang mampu menyihir banyak orang. Agak berbeda dengan gaya melawak ala kampung yang diterapkan oleh pelawak-pelawak lain. Menurutku, kemampuannya untuk menghina ( baik menghina orang lain dan diri sendiri ) dan membuat ‘celekopan’ ala jawa yang tidak terlalu jawa, menjadi point tersendiri. Ini mungkin yang menjadi daya tarik mas Tukul.
——————
Tukul adalah sebuah fenomena di republik yang sedang sakit ini. Fenomena kepolosan dan keluguan yang dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang baik, telah menimbulkan satu trend tersendiri di dunia hiburan. Dan republik ini butuh kesegaran, yang sayangnya tidak dapat diberikan oleh para pemimpinnya. Solusi-solusi atas segala permasalahan di republik ini selalu tidak menyegarkan jiwa sebagian besar rakyat.
Tukul menghadirkan solusi atas ketegangan rakyat karena semakin susahnya hidup. Dia semakin digandrungi banyak orang, meskipun mungkin juga ada yang tidak suka kepadanya. Yang jelas, Tukul menjadi satu tokoh ndeso dan katro yang semakin go public. Dan jangan-jangan turunnya popularitas SBY disebabkan oleh naiknya popularitas Tukul ? Dan apakah pertemuan SBY dengan Tukul di Istana Merdeka akan mempengaruhi tingkat popularitas masing-masing pihak. Atau jika popularitas Tukul semakin naik, ada partai politik yang mencalonkannya menjadi presiden ?
Republik Tukul Arwana 2009, sebuah ide yang menarik barangkali ?