Eureka !

April 16, 2007

Republik Tukul Arwana

Filed under: Indonesia in My Perspective — anugrahkusuma @ 5:47 am

“Kita kembali ke LAPTOOOOPP…. !!! “
Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin tahu kalimat ini. Seorang Tukul Arwana begitu cantik mempopulerkannya lewat acara “Empat Mata” di Trans 7 setiap hari pukul 21.30 ( hmm… seems like a promotion ? ).

Beberapa kali menonton acaranya mas Tukul ini, satu pertanyaan yang terlintas di benakku : “Kok orang sejelek ini bisa begitu populer ? Sampai-sampai jam tayangnya dimajukan sampai ke ‘area melek’ sebagian besar masyarakat Indonesia ?” Sorry rada menghina. Tapi tampang mas Tukul dari sudut pandang manapun menurutku tidak ada ganteng-gantengnya. Tapi ganteng itu relatif, buktinya masih ada yang mau sama mas Tukul ( istrinya -red ).

Artikel ini tidak mengulas mas Tukul secara lebih spesifik, apalagi membedahnya dan meneliti kesamaannya dengan … ikan arwana misalnya. Artikel ini akan mengulas sebuah fenomena, di mana saat ini gaya yang ditampilkan Tukul menghasilkan fenomena yang disukai orang banyak.

Pertama fenomena tentang Tukul itu sendiri. Tukul, yang hampir dapat dipastikan sudah sedikit orang kota yang mau memberi nama anaknya ‘Tukul’. Terlalu ndeso. Terlalu katro. Mungkin di desa masih ada nama ‘Tukul’. Yang terang, Tukul yang ndeso dan katro yang nafsu menyobek-nyobek mulut orang ini, sudah menjadi orang kota yang tenar dan digemari banyak orang, justru karena ke-ndeso dan ke-katro-annya itu. “Ndesooo…!! Katrooo…!!”, kemudian “Puas ? Puas ???” dan banyak lagi idiom-idiom yang menjadi trademark mas Tukul ini, telah menjadi idiom-idiom masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahkan gaya bertepuk tangan dan memonyongkan mulutnya yang mirip monyet, telah menjadi isyarat-isyarat yang digunakan dalam acara bercanda sebagian besar masyarakat Indonesia ini.

Kedua, fenomena tentang Laptop. “Kembali ke LAPTOOOPPP !!!” sangat terkenal di seantero nusantara. Pada prakteknya, memang mas Tukul ini menggunakan laptop sebagai referensi pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan kepada para bintang tamu. Mungkin bagi yang jeli, dalam talk show milik Tukul ini, penggunaan laptop menjadi yang pertama dan malah menjadi trademark bagi acara talkshow ini sendiri. So, image di masyarakat adalah : Ada tukul, ada laptop. Begitu melihat laptop, yang terbayang Tukul ( benarkah ? ) Kembali ke lap….. toooppp…..
Entah berhubungan entah tidak, pasangan tukul dan laptop ini menjadi trend di masyarakat. Bahkan anggota dewan ‘yang terhormat’ DPR RI sangat ingin meniru mas Tukul dengan mengusulkan pembelian laptop yang harganya sangat mahal jika dibandingkan dengan kebutuhan anggota DPR itu sendiri : 21 juta hanya untuk menggunakan Microsoft Word dan Excel !!! ( itupun kalau mereka bisa menggunakannya =)) ). Sempat terekam dalam sebuah situs berita di Tanah Air, ungkapan canda seorang anggota DPR : “Tukul aja punya laptop, kok kita (anggota DPR) gak punya ???” Itulah : Tukul semakin diidentikkan dengan laptop.

Fenomena ketiga : Keluguan Tukul dan gaya entertain yang dibawakannya. Polos. Kebiasaannya menghina diri sendiri menjadi sebuah kelucuan tersendiri yang mampu menyihir banyak orang. Agak berbeda dengan gaya melawak ala kampung yang diterapkan oleh pelawak-pelawak lain. Menurutku, kemampuannya untuk menghina ( baik menghina orang lain dan diri sendiri ) dan membuat ‘celekopan’ ala jawa yang tidak terlalu jawa, menjadi point tersendiri. Ini mungkin yang menjadi daya tarik mas Tukul.

——————

Tukul adalah sebuah fenomena di republik yang sedang sakit ini. Fenomena kepolosan dan keluguan yang dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang baik, telah menimbulkan satu trend tersendiri di dunia hiburan. Dan republik ini butuh kesegaran, yang sayangnya tidak dapat diberikan oleh para pemimpinnya. Solusi-solusi atas segala permasalahan di republik ini selalu tidak menyegarkan jiwa sebagian besar rakyat.

Tukul menghadirkan solusi atas ketegangan rakyat karena semakin susahnya hidup. Dia semakin digandrungi banyak orang, meskipun mungkin juga ada yang tidak suka kepadanya. Yang jelas, Tukul menjadi satu tokoh ndeso dan katro yang semakin go public. Dan jangan-jangan turunnya popularitas SBY disebabkan oleh naiknya popularitas Tukul ? Dan apakah pertemuan SBY dengan Tukul di Istana Merdeka akan mempengaruhi tingkat popularitas masing-masing pihak. Atau jika popularitas Tukul semakin naik, ada partai politik yang mencalonkannya menjadi presiden ?

Republik Tukul Arwana 2009, sebuah ide yang menarik barangkali ?

April 13, 2007

How to Solve Problems in Indonesia ?

Filed under: Social Perspective — anugrahkusuma @ 6:25 am

Bagaimana menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia ? Aku maksudkan : permasalahan apa saja : sosial, politik, budaya, ekonomi, dll.

Sebelum melakukan problem solving, ada beberapa point yang menurutku harus diperhatikan. Point-point ini merupakan asumsi mendasar yang -semestinya- dipegang sebelum membuat rancangan pemecahan masalah. Point-point tersebut adalah :
1. Semua orang Indonesia itu licik.
2. Setiap solusi butuh kontrol yang ketat

Hanya 2 itu.

Point 1 kedengarannya terlalu tendensius.Tapi sering terjadi di banyak kasus bahwa sebuah solusi yang sepertinya tepat, menjadi tidak tepat karena asumsi dasar nomor 1 ini. Mau contoh ? Lihat operasi pasar waktu harga beras naik. Teori demand-supply di ekonomi mengatakan : ketika supply ditambah (dan demand tetap), semestinya harga-harga turun atau cenderung turun. Kenyataannya bagaimana ? Harga-harga malah tetap dan cenderung naik. Kok bisa ? Karena sering terjadi pengantri beras murah tersebut adalah :
a. Pedagang beras, yang mencari beras murah untuk dijual lagi pada harga terkini, sehingga dapat meraup untung.
b. Dalam satu antrian dapat terdiri atas bapak, ibu, anak2. Sehingga beras kadang2 menumpuk di satu rumah, sehingga pemenuhan kebutuhan untuk KK (kepala keluarga) lain tidak tercapai, sehingga mempengaruhi level harga.

Contoh lain, masih untuk point 1 : Masalah filtering terhadap unsur2 yang merusak moral bangsa pada dunia perfilman. Meskipun hanya merupakan desas desus kalau terkadang sutradara itu menyogok pihak BSF untuk beberapa adegan yang tingkat destruktifnya masih debatable agar lolos sensor, tapi jika kita lihat film-film nasional, terutama yang memiliki adegan2 “sedikit panas”, agak logis kalau desas-desus tersebut tidak tinggal sebagai sekedar desas-desus. Mungkin benar. Tapi pada intinya, ternyata kejadian penyogokan untuk beberapa adegan film itu dimungkinkan terjadi.

Masih banyak contoh untuk asumsi pada point 1. Oleh karena itu, agar point 1 dapat diminimalisasi, artinya kelicikan-kelicikan tersebut dapat dikurangi, maka perlu asumsi pada point 2 : setiap solusi butuh kontrol yang ketat.

Artinya apa ? Ketika ada upaya untuk menurunkan harga beras dengan menggunakan operasi pasar, maka kontrol terhadap operasi pasar itu sendiri harus sedemikian ketat. Tidak hanya melibatkan 1 atau 2 orang petugas kepolisian. Mungkin perlu juga dibuatkan satu posko yang berisi petugas pengecekan data administrasi, yang mengecek :
a. Benarkah dalam satu KK tidak ada lebih dari 1 utusan yang mengantri ?
b. Yakinkah bahwa pengantri itu tidak akan menjual berasnya lagi ?
Bahkan mungkin perlu yang namanya petugas yang membagikan ember khusus operasi pasar untuk setiap KK dengan label yang unik yang merepresentasikan setiap KK.
Solusi yang mahal pada akhirnya, tapi kontrol menjadi ketat. Tapi bagaimana lagi ? Kejadian-kejadian sering membuktikan bahwa maksud dan tujuan dari sebuah solusi malah tidak tercapai karena kontrol yang tidak ketat. Bahkan petugas yang mestinya mengontrol, malah tidak menjalankan tugasnya karena asumsi pada point 1 berlaku. Indonesia benar-benar sedang krisis kontrol !!!

Sebagai rakyat kecil aku hanya bisa berharap keadaan menjadi lebih baik ke depan. ( Kapan ya ? )

ITB : perbandingan 1997 dengan 2007

Filed under: ITB In My Perspective — anugrahkusuma @ 4:52 am

Mencoba menulis tanpa dipengaruhi “sindrom generasi tua” (istilahku sendiri untuk sindrom yang menganggap generasi tua masih lebih baik daripada generasi muda ).

Menyambut 10 tahun aku berada di ITB ( eitss…. sudah lulus S1 dan S2 tentunya ), aku mencoba membuat perbandingan antara ITB tahun 2007 dengan ITB tahun 1997.

Beberapa hal yang berubah ( aku tidak mengkategorisasi ke dalam “positif” atau “negatif” ) :
1. ITB 1997 : jumlah mahasiswi yang berdandan nggak ada separuh dari populasi mahasiswi ITB
ITB 2007 : jumlah mahasiswi yang tidak berdandan nggak ada separuh dari populasi mahasiswi
ITB ( sepersepuluhnya pun mungkin nggak nyampe ).
2. ITB 1997 : jumlah mahasiswa/i yang ke kampus dengan mengendarai mobil sedikit.
ITB 2007 : jumlah mahasiswa/i yang ke kampus dengan mengendarai mobil banyak.
3. ITB 1997 : masih bisa dijumpai mahasiswa S1 yang sudah 10 tahun kuliah di ITB
ITB 2007 : sudah tidak ada mahasiswa S1 yang kuliah di ITB 10 tahun gak lulus-lulus ( udah
DO ! )
4. ITB 1997 : Mahasiswa tidak bawa HP. Kalau yang rada modern, bawaannya pager
ITB 2007 : Hare gene mahasiswa ga punya HP ????
5. ITB 1997 : Mahasiswa masih banyak yang nebeng komputer temennya untuk mengerjakan
tugas
ITB 2007 : Mahasiswa udah bawa2 laptop ke kampus
6. ITB 1997 : OS masih kejam ( meskipun di beberapa himpunan sudah melunak )
ITB 2007 : udah ga ada OS
7. ITB 1997 : Mahasiswanya bau2
ITB 2007 : Mahasiswanya wangi2
8. ITB 1997 : Mahasiswa yang berkarya di luar kampus (bakti sosial dll ) masih banyak.
ITB 2007 : Mahasiswa yang berkarya di luar kampus ( bakti sosial dll ) tinggal sedikit.
9. ITB 1997 : Seminar2 / Kuliah umum (kebanyakan) berbau teknologi
ITB 2007 : Seminar2 / Kuliah umum (kebanyakan) berbau bisnis / enterpreneurship
10. ITB 1997 : Sering liat mahasiswa pake sandal waktu kuliah
ITB 2007 : Udah jarang liat mahasiswa pake sandal waktu kuliah.

Mungkin masih banyak perubahan2 yang belum masuk di sini. Paling tidak itulah yang kuamati sejauh ini.
ITB…..ITB….. jaman memang sudah berubah !

November 25, 2006

Too Much Freedom Will Kill You

Filed under: Social Perspective — anugrahkusuma @ 4:11 am

Akhirnya korban pun jatuhlah. Seorang anak kelas 3 sekolah dasar menjadi korban perbuatan Smack Down yang dilakukan teman-temannya. Saya masih berpikir positif bahwa tidak ada niat membunuh dari teman-temannya. Mereka hanyalah anak kecil yang gemar meniru ( standar, anak kecil memang begitu ).

Banyak analisis, mulai dari kenapa anak2 itu mau melakukan Smack Down, sampai kenapa Smack Down tidak dihapuskan dari siaran televisi kita. Bahkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI )   terkesan lambat dalam merespons hal ini. Salah satu di antaranya adalah faktor kontrak, dan pasar yang ternyata, kalau kita search di internet, forum-forum penggemar Smack Down ini cukup banyak. Analisis-analisis tersebut seakan-akan cukup sampai sebatas analisis. No Action.

Saya ingin menarik lagi satu benang merah ke masa silam, pada saat pasca kejatuhan Soeharto. Reformasi bergaung di mana-mana. Dan satu isu yang diusung dalam reformasi itu adalah ‘kebebasan’. Kebebasan berserikat, kebebasan berkumpul, sampai kebebasan pers.  Semua orang bebas mengemukakan pendapat, semua orang bebas menyatakan ketidakpuasan, sampai-sampai beberapa aksi kebebasan berpendapat itu disertai dengan anarkisme. Bahkan mulai 1999 mulai ada kebebasan untuk membunuh orang atas nama agama ( Ambon, Poso ).

 Pers juga tidak luput dari hawa kebebasan tersebut. Media-media yang ketika pemerintahan Soeharto, tidak berani mengkritik Pemerintah, sekarang sudah berani ‘menelanjangi’ pemerintahan, bahkan sampai urusan pribadi di-blow up. Contoh : Hamzah Haz yang beristri lebih dari 1. Adegan-adegan kriminalitas yang agak-agak ‘luar biasa’ seperti mutilasi, sekarang ini sudah banyak media yang berani menyiarkan rekonstruksinya ( lumayan, diperlihatkan caranya potong kepala ). 

Wacana kebebasan ini mirip dengan wacana kebebasan pada saat Indonesia merdeka 1945. Menurut buku “Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat” karangan Cindy Adams, pada hari-hari setelah kemerdekaan, euforia kebebasan melanda seluruh bangsa Indonesia, yang akhirnya diwujudkan dengan cara “hidup tanpa aturan sama sekali”, seperti naik kereta api tanpa bayar ( menular ya sampai sekarang, hehe ). 

Setelah Reformasi, euforia ini muncul lagi. Apalagi khususnya untuk kebebasan mengakses informasi. Pers saat ini mempunyai alasan cukup kuat untuk memberikan informasi sedetail mungkin, sekontroversial mungkin, dan tentu saja….. semenarik mungkin. Dan pasar juga memperlihatkan kebutuhan atas informasi-informasi yang sensasional. Apalagi ditambah dengan semakin membudayanya ber-internet ria. Transformasi informasi, budaya, ilmu pengetahuan benar-benar membuat bangsa ini berubah secara tidak sadar ke arah “pencerahan”. Bangsa ini melihat bahwa informasi harus dapat diakses seluas-luasnya, sevulgar-vulgarnya. Bahkan untuk yang namanya pornografi, meskipun negara kita secara teori adalah negara yang religius, namun penolakan terhadapnya dilakukan setengah-setengah. Kalau siang demo pornografi, kalau malam cari stensilan ;)

Menurut saya, bangsa ini mengalami ‘keharusan melakukan akselerasi ke arah globalisasi’. ‘Keharusan’, karena jika tidak demikian, maka bangsa ini melihat bahwa dia akan semakin tertinggal, jadi melakukan akselerasi ke arah globalisasi tersebut mutlak harus dilakukan. Misalnya di kota-kota besar, terjadi perubahan gila-gilaan terhadap trend fashion yang untuk ukuran di USA itu adalah hal yang biasa-biasa saja, tetapi di Indonesia, hal itu merupakan sesuatu yang tabu. Lihat saja komentar-komentar miring tentang penampilan Agnes Monica dalam setiap video klipnya. Yah, itulah konsekwensi akselerasi yang terlalu tinggi, sementara tidak semua individu di Indonesia belum semua bisa mengakses informasi.

Masyarakat yang sudah berpikiran ‘global’ di Indonesia lebih melihat kebebasan sebagai hal yang mutlak. Ibaratnya kalau ada cewek pake bikini di Jl. Sudirman, jakarta, meskipun mungkin agak sepet ngeliatnya, tapi penyikapannya adalah penyikapan global : “Hak dialah mau pake bikini kek, mau pake kebaya kek. Bukan urusan gue”.

Fenomena ini masuk juga di media massa. Mereka bebas mengenkapsulasi berita-berita mereka dalam bentuk yang sesuai untuk pasar yang mereka kejar. Koran yang mengincar target tukang becak, tukang bakso, cenderung menggunakan “bahasa rakyat” yang tidak mematuhi aturan bahasa Indonesia baku. Media yang mengincar target kalangan penggemar berita-berita kriminal, akhirnya menampilkan gambar-gambar mayat ( meskipun sebagian gambar di-blur). Sampai pada acara Smack Down yang banyak ditiru oleh anak-anak sampai akhirnya ada yang meninggal.

Kebebasan, selera pasar. Dua faktor utama untuk melakukan segala hal. Di saat USA, negara yang dianggap paling bebas saat ini,  menerapkan pembatasan usia pengunjung pada counter-counter penjual materi-materi Adult, di Indonesia majalah-majalah yang “relatif vulgar” banyak ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Sampai anak SD saja bisa liat paha dan dada yang sedikit terbuka ( yang kayaknya belum saatnya mereka melihat itu). Itu karena pasar content-content ‘jorok’ itu berada pada semua kalangan, termasuk kalangan bawah.

Smack down, jika memang tidak ada penggemarnya, dia pasti tidak akan ditayangkan. Tetapi ternyata, penggemarnya ada. Bahkan untuk anak-anak kecil (biasanya lelaki), acara-acara ini sangat disukai karena menonjolkan kekuatan, suatu hal yang lumrah didambakan oleh anak lelaki. Akhirnya matilah si anak SD kelas 3 tersebut.

Nah, kebebasan ini, selain harus dihargai, tetapi juga harus diarahkan. Pemerintah semestinya melakukan pendidikan publik mengenai kebebasan ini. Saat ini cukup sukses untuk kebebasan berdemonstrasi. Meskipun diberi aturan izin demostrasi, tetapi dalam acara demonstrasinya, pemerintah cukup bagus melakukan pendidikan terhadap aprat-aparatnya dalam hal menjaga demonstrasi. Mestinya untuk penyiaran ini juga diperlukan sedikit pengetatan content, dan aturan penayangannya. Smack Down sebenarnya adalah sandiwara, tetapi perlu diperhatikan dampaknya jika dia diakses oleh golongan yang tidak tepat, seperti anak-anak.

Kebebasan adalah hak manusia. Kita bebas untuk melakukan apa saja. Tetapi, seperti yang guru PPKn / PMP katakan : Kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jadi harusnya ada semacam keseimbangan kebebasan dalam hal ini. Kebebasan harus dibuatkan aturannya di negara ini. Tidak dalam rangka mengekang, tapi dalam rangka penghormatan atas kebebasan-kebebasan yang saling berinteraksi antar individu manusia. Too much freedom will kill you ! 

November 18, 2006

Beberapa Tips Dalam Ngetraining

Filed under: Training Experience — anugrahkusuma @ 10:30 am

Tips-tips ini saya berikan berdasarkan pengalaman saya nge-training di Java Competency Center ( JCC ) , ITB, dan saya tidak berani menggeneralisasi tips ini untuk semua jenis training. Saya batasi saja untuk training programming, atau semua training yang posisi trainee-nya  berada di belakang komputer. Ini tips-tips buat trainer agar training dapat berjalan lancar. Artinya, Anda tidak gugup, dan peserta bisa enjoy dalam mengikuti training.

a. Belajar lagi tentang materi pada modul yang akan diajarkan. Tidak hanya belajar teori, tapi coba mengerjakan soal-soal latihannya. Soalnya kadang-kadang ada error yang kita tidak duga-duga. Mumpung belum dimulai ngajarnya, bisa cari jawaban, kenapa error.

b. Lihat-lihat lagi slide ( jika Anda menggunakan slide ) materi yang akan diberikan. Biasanya, modul training merupakan penjelasan dari apa yang tertulis pada slide. Slide biasanya hanya memberikan inti-inti materi, sedangkan penjelasan ada di modul training.

c. Periksa kondisi peserta training. Periksa data-data latar belakang mereka, apakah mereka berlatar belakang akademik / pekerjaan di bidang komputer ? Atau di bidang lain ? . Misalnya untuk training yang saya bawakan ( Java ), saya harus check dulu apakah pesertanya pernah melakukan pemrograman Java ? atau belum sama sekali. Pemeriksaan kondisi ini penting,  soalnya nanti cara menjelaskannya berbeda. Untuk orang yang pernah melakukan programming, menjelaskan materi tidak perlu terlalu detil di modul-modul yang kira-kira mereka sudah paham. Untuk peserta yang tidak berlatar belakang komputer / belum pernah menyentuh komputer, effort yang akan dikeluarkan jelas lebih besar. Anda harus menggeber skill mereka di materi-materi awal.

d. Susun strategi pengajaran. Strategi ini bisa berdasarkan hasil investigasi pada bagian c., bisa juga ditambah dengan kondisi ruangan. Ruangan yang relatif dingin, akan menyebabkan para trainer mudah ngantuk. Penyakit ngantuk ini juga dapat terjadi ketika training diadakan setelah jam makan. Untuk mengatasi ngantuk, Anda dapat memperbanyak porsi waktu training pada latihan soal.

e. O iya, datanglah 1/2 jam sebelum training dimulai. Ini penting selain memotivasi para peserta training untuk datang tepat waktu, juga untuk membuat diri Anda beradaptasi dengan ruangan kelas / area training. Ada kalanya di rumah sebelum Anda berangkat, Anda agak suntuk dengan kondisi rumah yang berantakan. Maka, datanglah lebih cepat ke tempat training, supaya bayangan ruangan di kepala Anda berubah menjadi bayangan ruang kelas.

f. Buanglah apa saja yang perlu dibuang sebelum Anda mentraining. Buang air kecil / besar sebelum training itu perlu. Supaya pada waktu di kelas, konsentrasi Anda tidak terganggu. Sebenarnya dapat saja pada saat peserta berlatih soal, Anda ke WC. Tidak jadi masalah sebenarnya, cuman kok jadinya Anda terpecah konsentrasi. Di pihak peserta training sih tidak ada masalah, selama Anda ke WC-nya pada waktu mereka berlatih soal, bukan di tengah2 Anda memberikan materi. “Jadi class itu adalah….. sebentar saya ke WC dulu..”. Pasti gak enak di mata peserta training.

g. Ini training, bukan kuliah. Tujuannya pun meningkatkan skill. Jadi buatlah suasana aktif di kelas. Ajak peserta untuk berlatih. Antisipasi kalau mereka mulai bosan untuk mengetikkan code. Anda bisa pancing dengan memberikan beberapa teka-teki tentang materi yang membuat mereka harus mencoba dulu di komputer untuk tahu jawabannya.

h. Dampingi peserta ketika latihan. Jangan didiemin. Nanti peserta malas. Paling tidak Anda datengin satu-satu, liat aja kerjaannya. Nanti kan pesertanya sungkan sendiri. Tapi ada sih yang tidak sungkan. Kalau saya sih, saya tanyain : “Gimana ? Udah bisa programnya ?”. Biasanya sih, pesertanya langsung terpacu lagi untuk coding. Tapi kalo gak terpacu lagi, jangan dihukum. Dimarahin aja. Ini kan training, dia mau ngerjain atau tidak ya sebenarnya terserah dia. Anda cuman harus memotivasi saja.

Mungkin itu dulu. Tapi akan ter-update, seiring dengan semakin seringnya saya ngajar.

November 10, 2006

Mobile Learning

Filed under: Mobile Learning — anugrahkusuma @ 2:08 pm

Mobile Learning is defined as the usage of mobile or wireless devices for learning on the move ( LearningCitizen.net ). This is a, relative, new term in Information Technology. The idea is : establish a community that can learn everywhere, without setting a traditional class. You just need to have a PDA or MMS-enabled handphone. Search for a learning material from internet, download it, and learn from it.

I think this is a brilliant innovation, especially for dropped-out people. They won’t be a “bad guy” anymore. They can upgrade their knowledge, dan take an advantage from mobile learning technology.

Stay tune for my exploration about this topic :)

something ’strange’ with abstract class

Filed under: Java — anugrahkusuma @ 9:49 am

Actually not so strange. But, I can say that “rarely used” : An abstract class containing  no undefined methods. But I made a mistake when I evaluated a trainee’s test. Nobody knows about that, and fortunately, nobody ask me for rechecking. But, when I tried the case, I created an abstract class with no undefined method…., and I compiled it…. THERE WAS NO ERROR !!

An unforgetable lesson, of course, hiak hiak…  :P

Blog at WordPress.com.